Hukum

Terkait Pemberitaan Aliran Sesat di Rantau Bayur, Kemenag Segera Bentuk TIM

Banyuasin – Dugaan aliran ajaran sesat di Desa Semuntul Kecamatan Rantau Bayur yang diberitakan media massa, langsung diklarifikasi oleh Kementrian Agama Kabupaten Banyuasin, dengan memanggil dua orang di desa setempat yakni P3N dan tokoh agama.

“Kami memang senggaja memanggil keduanya untuk menggali informasi yang sebenarnya berkaitan dengan kegiatan agama di desa itu yang dianggap masyarakat menyimpang dari ajaran Islam,”ujar, Salni Fajar, Kasubag TU Kemenag Banyuasin, Jumat (7/4/2017).

Untuk membuktikan ajaran sesat atau tidak, maka pihaknya akan menurukan tim investigasi guna mencari kebenaran dari dugaan aliran sesat ini.

“Informasi ini tetap ditindaklanjuti oleh Kepala KUA Rantau Bayur supaya datang kesana, tapi jika faktanya benar, Kemenag Banyuasin bakal bentuk tim melibatkan MUI, FKUB, Kesbang Pol dan Polres Banyuasin,”tegasnya.

Soalnya dari penjelasan mereka tersebut, dirinya tidak langsung menyimpulkan jika kegiatan keagamaan yang dilakukan mereka adalah sesat.

“Saya pelajari kalau mereka bermaksud ingin menerapkan ajaran nabi Muhammad seseuai isi kandungan Al-qur’an saja dan tidak melaksanakan sunnah (Hadist) sehingga kurang sempurna,”jelasnya.

Untuk membuktikan informasi itu, maka pihaknya akan menurukan tim investigasi guna mencari kebenaran dugaan aliran sesat ini.

“Informasi tersebut tetap ditindaklanjuti oleh Kepala KUA Rantau Bayur agar datang kesana, tapi jika faktanya benar, Kemenag Banyuasin bakal bentuk tim melibatkan MUI, FKUB, Kesbang Pol dan Polres Banyuasin,”tegasnya.

Terpisah, Kasi Bimbingan Masyarakat Kemenag Banyuasin Hamdan mengatakan bahwa persoalan ini sebelumnya sudah dilakukan penanganan oleh Kemenag Banyuasin, yang mana saat itu bertanggungjawab oleh Arbani selaku pengajar dari yayasan AKUIS.

“Bahkan masalah ini sudah dimasukkan dalam Berita Acara. Jadi kami simpulkan saat itu tidak ada masalah. Kemungkinan ini penerus dari yang diajarkan oleh Arbani kepada pengikutnya sekarang,”katanya.

Sementara, P3N Desa Semuntul Mat Nur menyebutkan ada beberapa hal prilaku mereka yang janggal dianggap masyarakat melenceng berkaitan tata cara menikahkan anak dibawah umur pada jam 1 malam kepada jemaah yang rajin ibadah.

Kemudian, melarang baca surat yasin ditempat orang yang meninggal dunia. “Ajaran mereka ini yang membuat kami khawatir dikarenakan tidak sesuai dengan faham kami. Maka sampai saat ini jemaah mereka sudah mencapai 50 orang. Bahkan membuat warga resah karena banyak pengikut mereka dari Palembang dan sudah bermukim didesa itu,”pungkasnya.

STIA
Ke Atas