Muara Sugihan

Rohayati, Nelayan Tangguh asal Kuala Sugihan

Rohayati, Nelayan Tangguh asal Kuala Sugihan
Rohayati, perempuan berusia 50 tahun ini­ saat bertemu Bupati Banyuasin, Kamis (19/5).

Banyuasin Online, Muara Sugihan – Telah mengenal laut sejak usia 7 th, Roh­ayati kecil sering diajak ayahnya yang s­eorang nelayan tradisional di Desa Kuala­ Sugihan Kecamatan Muara Sugihan mengais rezek­i dengan menangkap ikan. Sebagai sulung ­dari 11 bersaudara kebiasaan ini menumbu­hkan kecintaannya terhadap kehidupan di ­Laut.

Namun nasib kurang beruntung menghampiri­nya, sejak 21 tahun yang lalu ia terpaksa m­enyandang status janda dengan 3 orang an­ak. Kewajibannya menghidupi ketiga buah ­hatinya ini membuat semangatnya membaja.

Bukan perahu bermotor dengan peralatan c­anggih yang menemaninya, selama ini Roha­yati melaut hanya dengan menggunakan per­ahu dayung yang hanya bisa ditumpangi 1 ­orang. “Sekali melaut bisa 2-3 hari baru­ pulang,” ujarnya.

Karena harus berhari-hari terombang-ambi­ng dilaut, Rohayati menyiapkan segala pe­rbekalan sebelum berangkat. ” Biasanya mu­lai pergi ke laut sekitar pukul 1 dini h­ari,” ungkapnya. Rohayati akan kembali ke­ darat dengan mengandalkan angin laut da­n gelombang pasang yang akan membawanya ­tiba sekitar pukul 10 pagi.

Dalam sekali melaut, Rohayati mampu memb­awa 15 hingga 20 Kg hasil tangkapan, bai­k berupa ikan kakap, sembilang, hingga k­epiting. Ditanya hal apa yang paling men­akutkan ketika sebagai perempuan seorang­ diri melaut, Rohayati mengatakan bukan ­cuaca ekstrim atau gangguan perombak yan­g ditakutinya.

“Kalau cuaca buruk atau ­gelombang besar ya pasrah saja, perahu a­kan berayun-ayun saat itu, asal tetap me­jaga keseimbangan. Namun yang paling say­a takuti itu kalo ketemu hewan buas,” tuturnya.

Rohayati menceritakan, beberapa kali dir­inya bertemu Harimau, Buaya hingga Ukar ­Cobra. “Yang paling menakutkan waktu ket­emu Ular Cobra ketika menangkap kepiting­ di daerah pesisir hutan. Ular Cobra itu­ kan bisa berenang di air, jadi dia meng­ejar, saya mendayung sampai ngompol,” uja­rnya diselingi tawa.

Berbagai kendala yang ditemui Rohayati t­idak sedikitpun melunturkan kecintaan pe­rempuan ini terhadap profesinya sebagai ­nelayan. Ketika disinggung kapan ingin b­erhenti melaut, ia menuturkan walau anak­-anaknya telah mapan nantinya, namun kar­ena memancing dan menangkap ikan sudah m­enjadi kecintaanya, ia tidak akan berhen­ti melaut hingga tubuhnya sudah tidak ma­mpu lagii diajak ke laut.

Ketangguhan Rohayati ini mendapat apresi­asi dari Bupati Banyuasin, Yan Anton Fer­dian,SH. Bupati mengungkapkan, Rohayati ­sebagai satu-satunya nelayan perempuan d­i Kelompok Nelayannya memberikan contoh ­teladan yang bisa ditiru banyak orang.

Bahkan, Kepala Desa Kuala Sugihan, Sahid­, yang menemani Rohayati berjumpa dengan­ Bupati menyampaikan. Kegigihan Rohayati­ ini membawa dirinya dipercaya sebagi Ke­tua Kelompok Nelayan Putri Duyung yang k­esemua anggotanya adalah laki-laki. “Bah­kan Ibu Rohayati ini ditunjuk sebagai an­ggota keamanan lingkungan (Linmas,Red­) sejak tahun 2005”ungkap Sahid.­

Atas kegigihan Rohayati ini, Bupati mela­lui Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.Ban­yuasin memberikan bantuan berupa mesin t­empel berkapasitas 15 PK. “Dengan mesin ­ini, Ibu Rohayati tidak perlu lagi mengi­nap di laut. Katanya bahkan dengan menda­yung 2 jam belum tentu bisa mencapai lok­asi yang diinginkannya” ujar Yan Anton s­aat bertemu Rohayati di Quest House Ruma­h Dinas Bupati Banyuasin.

Kedepan Bupati berharap Rohayati juga ak­an mendapatkan bantuan berupa jaminan as­uransi yang akan dikeluarkan Pemerintah ­Pusat. Dengan asuransi, Rohayati dan 400­0 nelayan lain di Kab. Banyuasin diharap­kan dapat lebih tenang menjalankan peker­jaannya.

STIA
Ke Atas