Banyuasin

Pemkab Banyuasin MOU dengan ZSL kelola Sembilang-Dangku

Banyuasinonline.com, Pangkalan Balai – Pemerintah Kabupaten Banyuasin menandatangani Perjanjian Kerjasama (MoA) dengan proyek Kemitraan Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan Sembilang-Dangku (KELOLA Sendang) pada kegiatan Musyawarah Perencanaan.

Pembangunan Kabupaten Banyuasin, Kamis (23/3/2017) Perjanjian kerjasama ini merupakan tindak lanjut atas nota kesepahaman yang di tandatangani oleh Gubernur Sumatera Selatan dengan Zoological Society of London (ZSL) yang ditunjuk sebagai Koordinator Konsorsium untuk Proyek KELOLA Sendang pada bulan Mei 2016 silam. Konsorsium KELOLA Sendang yang di dukung oleh Pemerintah Inggris dan Norwegia selaku lembaga donor, berkomitmen untuk mendukung visi pertumbuhan hijau Pemerintah Provinsi Sumsel melalui kemitraan dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan .

Penandatanganan MoA ini dilakukan berkenaan dengan wilayah proyek KELOLA Sendang yang akan bekerja di Lanskap Sembilang-Dangku, di area seluas sekitar 1,6 juta hektar yang terletak di kabupaten Musi Banyuasin dan kabupaten Banyuasin. Lanskap ini meliputi DAS Banyuasin dan sub-DAS lain yang mengalir melalui Taman Nasional Berbak-Sembilang ke arah timur, dan juga mencakup prioritas lahan gambut di Sumatera Selatan. Lanskap ini merupakan daerah yang potensial dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, yang dapat dicapai melalui perlindungan dan peningkatan pengelolaan hutan dan lahan gambut.

Isi Perjanjian kerjasama yang di tanda tangani oleh PLT Bupati Banyuasin Ir SA Supriono MM dan Project Director KELOLA Sendang Prof Damayanti Buchori secara garis besar bertujuan untuk membangun sinergi antara implementasi Proyek KELOLA Sendang dengan pembangunan daerah Kabupaten Banyuasin; mengembangkan kerjasama dan meningkatan kapasitas pengelolaan data biofisik dan sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan; mengembangkan kemitraan sektor publik-swasta dan masyarakat dalam implementasi model percontohan pengelolaan lanskap berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin; dan mendukung upaya-upaya konservasi dan pemantauan kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang, khususnya wilayah II Sembilang dan juga pemberdayaan masyarakat di desa-desa sekitarnya.

Bentuk kerjasama antara Proyek KELOLA Sendang dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin akan meliputi Penguatan kapasitas dan dukungan data serta kebijakan terkait dengan tata ruang kabupaten; Fasilitasi dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah Pembangunan Berkelanjutan Kabupaten Banyuasin; Peningkatan kapasitas terkait dengan pengelolaan dan perlindungan ekosistem mangrove dan pesisir untuk aparatur kabupaten dan masyarakat; Dukungan penguatan kelembagaan untuk pengelolaan ekosistem mangrove pesisir; Mendukung upaya- upaya pengurangan kebakaran hutan dan lahan, dan Peningkatan kapasitas, pendidikan dan ekonomi masyarakat sekitar hutan; Kemitraan pengelolaan kawasan Taman Nasional Berbak- Sembilang, pembentukan Forum Multipihak Pengelolaan Kawasan Penyangga Taman Nasional Berbak-Sembilang yang melibatkan pemerintah daerah, Balai Taman Nasional, Swasta dan masyarakat.

Proyek KELOLA Sendang telah melakukan serangkaian pertemuan koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin dengan tujuan untuk sinkronisasi implementasi kegiatan proyek KELOLA Sendang dan Program Kerja Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Proyek Kelola Sendang selaras dengan kepentingan pembangunan Kabupaten Musi Banyuasin yang memiliki komitmen besar menjaga keseimbangan antara kepentingan produksi dan konservasi.

7 (tujuh) desa yang menjadi Desa yang akan di intervensi oleh proyek KELOLA Sendang adalah Desa Tabala Jaya, Sumber Rejeki, Dusun Sembilang (Desa Sungsang IV), Tanah Pilih, Purwodadi Penuguhan dan Meranti. Rancangan intervensi proyek KELOLA Sendang ini adalah mulai dari kegiatan pemetaan tata guna lahan, konservasi mangrove, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan TN, pendidikan konservasi, pengembangan usaha ekonomi masyarakat pesisir, keterlacakan sumber produk kelapa sawit (traceability), serta mengembangkan Desa model Sustainable Landscape Management (SLM).

Proyek Kelola Sendang merupakan salah satu proyek di Indonesia yang mengadopsi pendekatan lanskap, sebuah cara dalam pengelolaan bentang kawasan secara terpadu yang menyeimbangkan kepentingan produksi, konservasi dan penghidupan masyarakat. Dipimpin oleh Zoological Society of London (ZSL) dengan beranggotakan organisasi yang memiliki ragam kapasitas dalam pengembangan pengelolaan lanskap berkelanjutan, yakni Daemeter, Deltares, SNV, IDH dan FPP.

Proyek Kelola Sendang bertujuan untuk : (1) menghasilkan data dan informasi biofisik dan keanekaragaman hayati skala lanskap secara terpadu (2) mendorong sinergi kebijakan dan tata kelola pada tingkat provinsi dan kabupaten (3) meningkatkan kapasitas para pihak dan mengembangka kemitraan aksi untuk pengelolaan lanskap berkelanjutan pada tingkat tapak (4) meningkatkan kerjasama, penggalangan sumberdaya dan pembelajaran. Proyek Kelola Sendang diharapkan akan mendukung pemerintah daerah untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti konservasi hutan dan keanekaragaman hayati, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, restorasi lahan gambut serta mendukung pemberdayaan masyarakat dan penghidupan yang berkelanjutan. Proyek Kelola Sendang bekerja pada lanskap Sembilang Dangku yang membentang antara TN Berbak Sembilang dan Suaka Marga Satwa Dangku, mencakup berbagai karakteristik ekologi, sosial dan budaya serta melibatkan berbagai unit pengelola lahan seperti Taman Nasional, Suaka Margasatwa, areal konsesi HTI dan perkebunan kelapa sawit serta wilayah kelola masyarakat. Lanskap Sembilang-Dangku mencakup Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, sehingga penting bagi Proyek Kelola Sendang untuk bekerjasama, bersinergi dan berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di daerah.

Kabupaten Banyuasin menetapkan pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu isu strategis dalam perencanaan pembangunan tahun 2014-2018. Isu strategis tersebut diurai dalam target pembangunan diantaranya adalah pengembangan konservasi mangrove dan pesisir, pengurangan kebakaran hutan dan lahan, tata ruang kabupaten dan kecamatan serta penyusunan rencana aksi pembangunan berkelanjutan daerah. Hal ini selaras dengan tujuan dan pendekatan lanskap yang dianut oleh Proyek Kelola Sendang.

Pengelolaan lanskap terpadu sangat penting mengingat adanya interaksi antara fungsi-fungsi yang berbeda berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya dan daya dukung lingkungan secara umum. Pendekatan lanskap akan mewujudkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam praktek, yakni sinergi antara sehingga kepentingan produksi, konservasi dan penghidupan masyarakat.

Penandatangan perjanjian kerjasama proyek Kelola Sendang dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin ini meneguhkan komitmen bersama untuk menuju era pengelolaan lanskap berkelanjutan, sebuah paradigma baru dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Kerjasama ini diharapkan akan menghasilkan pembelajaran yang bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. (RELASI)

 

Ke Atas