Ekonomi

Hutan Semakin Habis, Suku Anak Dalam Terpaksa Cari Penghidupan Dengan Cara Mengemis

Suku Anak Dalam, Terpaksa Harus Mengemis

Hutan Semakin Habis, Suku Anak Dalam Terpaksa Cari Penghidupan Dengan Cara Mengemis

Banyuasinonline.com, MUSI PAHIT – Suku Anak Dalam yang selama ini secara turun hidup dalam hutan dan sudah terbiasa menetap dan tinggal berpindah-pindah di kawasan hutan Provinsi Jambi atau di perbatasan wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) ini terpaksa harus keluar dan hidup mengemis dalam kondisinya miris karena mereka semakin tersisihkan, akibat hutan tempat kehidupan mereka habis oleh ulah para pembalakan liar dan dirampas oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit serta karet. Yang akhirnya karena keadaan terpaksa mereka untuk mempertahan hidup bersama keluarganya pindah hingga jadi pengemis di jalan-jalan.

Dari pantauan wartawan media pada Kamis (9/6) rombongan dari Suku Anak Dalam, tampak berjalan terseok-seok di pinggir Jalan Lintas Timur, Palembang-Betung, kawasan Musi Pahit Banyuasin yang berhasil diminta komentarnya mengatakan, ada 31 orang lebih, terdiri dari anak-anak, wanita dan pria dewasa, yang merupakan satu keluarga besar.

Bila diperhatikan penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan masyarakat modern saat ini, tapi yang paling mencolok untuk yag laki-laki usia anak-anak hingga yang tua, tidak ada yang mengenakan pakaian dan mereka hanya mengenakan sandal plastik saja, rambut kumal dengan kulit terlihat legam yang rata-rata pundaknya penuh barang bawaan. Bedanya lagi dengan yang perempuan bila tidak berjalan terpisah dan terlihat selalu menggendong anak kecil.

Dalam percakapanya dikatakan Endan (30), dia mengaku hutan yang secara turun-termurun mereka tempati memang telah dirampas oleh perusahaan, yang ternyata asal diperhatikan semua itu ulah dari perusahaan perkebunan dan pemerintah Jambi atau Pusat.

“Sudah satu bulan kami jalan, mulai dari Lubuk Linggau, Empat Lawang, Lahat kemudian Muara Enim, Prabumulih, Palembang masuk di Banyuasin, lalu ke Muba, jadi pulang sampai ke Jambi sekitar 2 bulan”, ungkapnya.

Endan mengutarakan, hutan dan tempat tinggalnya yang hilang itu yang melakukannya adalah PT. SAL 1 dan PT. Sinar Mas. “Kami sudah menggelar demo ke perusahaan, kami mintak ganti rugi tanah nenek moyang kami justru kami diusir paksa dan dijawab dengan kekerasan”, terangnya.

Keadaan bertambah pahit, setelah kehilangan hutan membuat mereka yang banyak buta huruf otomatis tidak bisa bekerja di perusahaan telah merampas tanah mereka. “Kami buta huruf, tidak bisa baca tulis, jadi kami tidak bisa diterima bekerja. Itu kata orang perusahaan”, ujarnya yang ditirukan.

Kini hutan mereka yang habis tinggal hutan lindung dibukit 12 atau bukit barisan, anak-anak ada 12 orang mereka belum bisa masuk ke gunung. Makanya kami memilih untuk keluar, katanya. “Pernah kami berusaha mengambil berondolan atau buah kelapa sawit malah karung kami dirobek pihak Pt”, tambah Muhammad.

Dikatakan Muhammad (60), untuk menyambung hidupnya tidak malu untuk mengemis, karena kami lapar dan susah. “Lailahailalloh, kami susah kami lapar, habis hutan kami karena sudah dikuasai oleh PT, dari pada kami merampok ya makanya kami mintak-mintak seperti ini”, katanya.

“Indonesia kayak masih dijajah Belanda padahal kini merdeka. Begitu kondisi kami saat ini, mana janji pemerintah daerah Jambi dan pusat akan membantu dan memperhatikan kehidupan kami, buktinya sampai sekarang belum ada”, ujarnya seloroh.

Saat ini perjalanan mereka dalam rangka Melangun atau buang sial, “karena ada keluarga kami yang mati, makanya kami memlangun. Kalau tidak jalan akan ada yang mati lagi. Saat di Palembang kami dapat bantuan dari dinas sosial seperti makanan pakaian dan peralatan masak, kalau uang tidak”, ungkapnya.

Meski tubuh Suku Anak Dalam ini kuat dan sehat, sayang fisik mereka tidak dimanfaatkan untuk bekerja keras, tetapi setelah sampai di kampung mereka katanya akan pulang ke Bukit 12. Terlihat tanpa rasa malu, mereka yang fasih berbincang dengan bahasa Indonesia itu sembari melanjutkan perjalananya sambil menengadahkan tangan ke para pengemudi dan orang mereka jumpai.

Sementara Kepala Dinas Sosial Banyuasin, Roni Utama Ap MSi kepada wartawan mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Propinsi Sumsel menangani eksodus Suku Anak Dalam asal Jambi tersebut.

“Petugas kita langsung turun kesana, suku anak dalam yang melintas dan tiba di Jalan Musi Pahit. Kita akan berikan bantuan makanan dan pakaian kepada mereka. Soalnya kenapa kita antar mereka saja dengan kendaraan ke hutan Bukit Sulap, tetapi tetap mereka menolak” jelasnya.

Roni juga menegaskan, pihaknya sudah berusaha semampu mungkin membantu Suku Anak Dalam ini. “Jadi karena adat mereka menolak untuk kita antar ke Bukit Sulap. Kalau mereka tidak jalan akan didenda 20 potong kain, itulah sebabnya mereka tidak mau diantar”, jelasnya. (waluyo/hs)

STIA
Ke Atas